Bungkus Terasi
Pengubah dunia
Siapa
sangka dan siapa kira? Orang yang awalnya buta terhadap agama kini menginjakkan
kakinya di universitas yang berbasic agama. Meskipun buta lantaran asal dari
sekolah yang berbasic umum. dia tetap membawa tongkat kehidupannya yang slalu
dia tanamkan dalam setiap pijakan kakinya. Innallaha la yughoyyiruma bi qowmin
hatta yughoyyiruma bi anfusihim. Ayat itu, beserta prinsipnya “Every one can be
a Champion if they want” yang telah membuatnya selalu tersenyum untuk maju dan
pantang menyerah meskipun dia berbeda dengan teman-temannya yang berasal dari
kalangan pesantren.
Seusai
melanjutkan studinya di SMA barulah Rini merasa bingung, hendak kemanakah dia
akan memulai jalan kehidupannya? Terjun kedunia kerja ataukah ke Perguruan
Tinggi? Pertanyaan dalam hatinya kini semakin beranak cabang. Jika bekerja,
dimanakah dia akan bekerja, siapakah yang mau jasa lulusan SMA yang tidak
memiliki keahlian seperti yang dimiliki oleh anak Lulusan SMK, yang memang pada
dasarnya sudah dibekali skill yang mumpuni. Jika dia terjun ke dunia Perguruan
Tinggi mampukah orang tuanya yang bekerja hanya sebagai seorang petani
membiayai perkuliahan hingga tuntas?
Faktor
ekonomi adalah faktor utama yang membebani pikiran setiap orang untuk
melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Akan tetapi tak lama
kemudian hal ini benar-benar terpecahkan dengan adanya pasal ke-5 bagian kesatu
tentang Hak dan Kewajiban Warga Negara dalam UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003 yang
menyatakan bahwa “ Setiap Warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh
pendidikan yang bermutu.” Dan juga UU SISDIKNAS No.20 Tahun 2003 pasal 11 ayat
1 menyatakan bahwa “ Pemerintah dan Pemerintah daerah wajib memberi layanan dan
kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi
setiap warga negara tanpa diskriminasi.”
Kata
“ tanpa diskriminasi” jelas membesarkan hati para pelajar yang berasal dari
kalangan ekonomi menengah kebawah maupun kalangan ekonomi bawah untuk
melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Dalam pasal tersebut
jelas-jelas pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan
tujuan pendidikan agar tercapai tanpa adanya diskriminasi. Dan upaya pemerintah
tersebut dapat dilihat dari bermunculannya program beasiswa bidik misi, PBSB,
Baznas, dan lain sebagainya. Yang dalam prakteknya mengakibatkan adanya
persaingan terbuka diantara pelajar dari berbagai kalangan untuk mendapatkan
beasiswa tersebut. Dan dengan adanya berbagai macam seleksi ini benar-benar
menyaring siswa-siswa untuk berprestasi.
Sejenak
terpikir oleh Rini untuk mengikuti program beasiswa bidik misi ini. Berbagai
persyaratan pendaftaran telah dipersiapkannya dengan apik, untuk mendapatkan
rekomendasi dari sekolahnya. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat
nilai rapor yang diminta dimulai dari semester 3 sampai semester 5 SMA (kelas 2
semester 1), sedangkan nilainya seperti dakian Gunung (Naik Turun). Selain itu,
harus mengikuti paralel 40 % dari 6 kelas program IPA pada saat itu. Dan Rina
sendiri bukanlah orang yang begitu hebat dalam bidang akademis. Betapa sedihnya
ketika dia mengetahui ketika kelas 2 semester 2 SMA dia tidak termasuk 40%
ranking paralel di sekolahnya?
Down
itulah yang dirasakannya, harus sekolah dimana? Sedangkan dia sudah mengetahui
orang tuanya yang tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya. Dan tawaran
orang tuanya pada saat itu adalah kerja sembari kuliah di Perguruan Tinggi
swasta. Betapa mirisnya ketika tawaran itu datang, sedangkan Rina benar-benar
belum siap bekerja, dan sakit melihat semua teman-temannya daftar ke
Universitas Negeri yang elite.
Masuk
kerumah Bu dokter, itulah yang dialaminya sebelum UAS. Indikasi darah tinggi
yang dia alami, jelas dialaminya akibat tidak hanya UAS yang ia pikirkan akan
tetapi dia ingin sekolah. Kemanakah dia akan tunaikan cita-citanya yang ingin
menjadi seorang pendidik profesional tanpa bersekolah? Mengetahui hal itu
semua, akhirnya orang tuanya memberinya uang dua ratus ribu rupiah untuk
pendaftaran SNMPTN undangan. Ingin dia menolak karena misalkan saja dia
diterima di universitas negeri, jelas tidak mungkin bisa untuk membayar uang
Insidental pertama.
Tapi
orang tuanya kini memaksanya, karena mereka tahu kondisinya akan terus memburuk
jika saja keinginan bersekolahnya terputus. Masih ingat dibenak Rina ketika dia
berkata “Biaya pertama untuk masuk kuliah mahal pak, saya takut ketika diterima
nanti tiba-tiba tidak bisa membayar.” Bapaknya menjawab “memangnya sampai
berapa ratus?” “Jutaan pak.”Jawab Rina “ Tenang saja, bapak bisa menjual sapi
atau sawah.” Meski jawaban bapak Rina begitu tenang seperti tak ada masalah
sedikitpun akan tetapi, dia tahu ketika ekspresi wajah ayahnya yang sempat
terlihat Rina, kernyitan dahi bapak ketika mendengar kata jutaan.
Besoknya
dia menyetorkan uang ke pihak yang bertugas untuk menangani SNMPTN undangan.
Ketika memasuki ruangan tiba-tiba dia melihat namanya diatas kertas putih yang
diletakkan di depan meja ruang BK. Segera dia bertanya kepada petugas BK. “Ibu.
Kenapa nama saya ada diatas kertas itu? “Oh, kamu termasuk siswa yang
terekomendasi untuk mengikuti program beasiswa bidik misi. Jadi kamu memiliki
nomor pin untuk online.
Benarkah
bu?tanyanya dengan girang tak percaya. “Iya”. Jawab ibu itu. “Tapi saya tidak
termasuk 40% rangking paralel itu bu,
karena nilai rapor saya jeblok ketika kelas 2 semester 2. “di coba saja online,
nanti kalau bisa, berarti kamu bisa daftar. “ Iya Ibu.
Betapa
girangnya dia hingga dia merasa bingung keajaiban apa yang telah diberikan oleh
Allah kepadanya. Sesampainya dirumah sang Ibu menyambutnya dan bertanya “ Sudah
daftar ?” akan tetapi Rina menangis. Ibunya bertambah bingung kenapa anaknya
menangis. Setelah ditanya, dia mengungkapkan semua kegembiraan berita itu
kepada ibunya. Ibunya pun senang mendengarnya. Dan Rina pun mengembalikan uang
dua ratus ribu tadi kepada sang bapak. Tak lupa segera dia mengabarkan kepada
kakak kelasnya Saiful Rizal yang bebrapa kali membimbingnya jika dia tidak bisa
pelajaran.
Esoknya
sepulang sekolah dia pergi ke warnet terdekat untuk mendaftar secara online.
Dia tidak peduli meskipun hari itu hujan dan tak ada payung yang akan
digunakan. Akhirnya nekat basah kuyup masuk ke dalam warnet. “Bismillah” kata
itulah yang tiba-tiba terucap dari lisannya. Mulailah dia mengetik alamat
website www.snmptn.ac.id setelah memasuki web itu, dia bingung akan menentukan universitas
beserta jurusan apa yang ia pilih. Akhirnya dia memilih UM dengan jurusan
pendidikan Bahas Inggris. Kemudian UNESA dengan jurusan Biologi. Karena hanya
dua universitas itu yang ia kenal.
Setelah
mengeklik OK dia menyesal kenapa tidak meminta pendapat dulu kepada orang-orang
yang lebih mengetahui tentang hal itu. Atau paling tidak dia memberitahukan
pilihan itu kepada orang tuanya. Agar mendapatkan pertimbangan. Dia pulang
kerumah dengan penyesalan, akan tetapi sesampainya dirumah dia kaget ketika
melihat ibunya tiba-tiba membawa sepotong koran bekas bungkusan terasi dan
menyerahkan kepada Rina sambil berkata daftar di IAIN Sunan Ampel saja nak,
disana kalau bidik misi ada tes ngajinya. Ibunya meski tidak mengerti tentang
agama akan tetapi dia senang ketika mendengarkan Rina mengaji, ketenangan yang
ia rasakan ketika mendengarkan anaknya ngaji.
Rina
memang berasal dari sekolah SD,SMP,SMA, dan tidak sama sekali terjamah oleh
pendidikan pesantren. Akan tetapi untunglah di desanya ada Taman Pendidikan
Al-Qur’an. Yang sempat menjadi lahan pembelajarannya dalam menguasai baca
al-Qur’an secara tartil, selain itu dia di beri kelebihan oleh Allah dalam
kefasihan dan suara yang keras dan tegas dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an.
Itulah yang membuat ibunya selalu menginginkan anaknya terjun ke dalam dunia
yang berhubungan dengan ngaji. Maksud hati memeluk gunung tapi apa daya tangan
tak sampai. Pepatah itu sangat cocok jika diterapkan dalam kondisi saat itu.
Nasi sudah menjadi bubur, Rina tidak bisa lagi mengubah pilihan universitas
akibat tombol ok yang telah dipencetnya.
Ibunya
yang mendengar hal itu, tidak marah ataupun sedih. Akan tetapi tambah
tersenyum. “Allah, memberikan rencana lain untukmu nak.” “Iya bu, maaf saya
tidak bilang dulu kalau memilih jurusan.” Kata Rina memelas. “Tak apa, toh kamu
belajar dewasa dengan membuat keputusan sendiri. ‘betapa ibu yang memiliki
kebesaran hati.
Tanggal
19 Mei pengumuman hasil SNMPTN undangan, akan tetapi betapa kecewanya ketika
Rina melihat dia tidak lolos dalam seleksi dan dia baru mengetahui bahwa
jurusan pendidikan bahasa Inggris yang di pilihnya, ternyata memerlukan tes
wawancara. Dan otomatis dia tidak mengikutinya karena ketidak tahuannya tentang
hal itu.
Ibunya
yang mengetahui hal itu, mencoba untuk membesarkan hatinya. Sambil mendekati
Rina yang terbaring diatas tempat tidur dan mengusap isak tangisnya. Ibu berkata
“banyak jalan menuju Roma, setiap ada kemauan pasti ada jalan.” Untuk masuk
perguruan tinggi kan tidak hanya satu jalan nak? “Iya bu, ada lagi SNMPTN Tulis
tanggal 31-01 Juni, tapi sudah tidak ada beasiswa bidik misi lagi ibu, nanti
apakah ibu rela dan mampu jika harus membiayai saya sekolah? “dimana sih ada
orang tua yang keberatan jika anaknya ingin maju? Meskipun ibu ini hanya
lulusan sd, tapi ibu masih mengerti tentang pentingnya sekolah nak, ibu tidak
ingin anak ibu bernasib sama seperti ibu. Yang dulunya dilarang sekolah oleh
orang tua akibat tidak adanya biaya.
“Toh
kamu sudah besar, kamu bisa berfikir bagaimana agar kamu mendapatkan beasiswa
dalam universitas nanti.” Jawab ibu dengan senyuman yang tak pernah tertinggal
dalam setiap detiknya. “bu, besuk saya mau ke sekolah SMA, cari informasi lagi,
mungkin masih ada rejeki yang tersisa untuk saya.” Jawab Rina. “Iya tak apa”.
Pagi-pagi
Rina sudah berdiri di depan ruang BP, tidak lain tujuannya untuk mencari
informasi tentang SNMPTN. Setelah dia masuk kedalam ruangan didapatinya bu
lilik yang sedang sibuk menulis surat. “Assalamu’alaikum, maaf mengganggu ibu,
saya ingin tanya tentang SNMPTN, dan mungkin sekiranya ada beasiswa-beasiswa
untuk masuk ke perguruan tinggi yang masih terbuka peluangnya saat ini. “Oh
iya, Rin..., bidik misi sekarang dibuka lagi dalam bentuk SNMPTN Tulis.
“Benarkah bu?” “Iya, pelaksanaannya sama persis denan SNMPTN biasa, tapi sebelu
online harus bayar dulu di Mandiri 150.000, tolong diberi tahukan ke
teman-teman yang lain ya? “ Iya bu. Terima kasih.
Rina
tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, segera dia mendaftar dan tak lupa
dia memilih IAIN Sunan Ampel Surabaya sesuai dengan harapan ibunya dulu.
Meskipun dia tidak mengetahui sama sekali tentang universitas ini. Ujian berlangsung,
dan hari pengumuman telah tiba. Dia dinyatakan diterima di IAIN Sunan Ampel
Surabaya dengan label bidik misi.
Rina
ingin pergi ke IAIN, karena dia tidak mengerti sama sekali bahkan alamatnya pun
dia tidak tahu. Untungnya salah seorang temannya mengetahui lokasi IAIN berada,
akhirnya hari Rabu mereka berempat pergi ke sana. Sesampainya disana Rina
langsung meminta petunjuk temannya jikalau dia ingin meminta kejelasan beasiswa
bidik misi kepada pihak kampus. Akhirnya temannya itu menyarankannya untuk
masuk ke dalam rektorat dan ke bagian akdemik.
Sesampainya dibagian akademik, dia langsung
menuju kesalah satu meja petugas mengenai bidik misi tulis. Tapi yang dia
dapatkan adalah sebuah kekecawaan yang sangat besar. Karena salah satu karyawan
akaedemik mengatakan bahwa jakarta tiba-tiba menambahkan kuota 44 terhadap
siswa bidik misi, padahal pihak kampus masih belum di beri tahu dari manakah
mereka mendapatkan biaya untuk anak sebanyak 44 itu, sedang jakarta belum
memberikan sepeser uangpun kepada mereka? Akhirnya untuk menunggu keputusan dari
pihak jakarta dan kembali lagi ke IAIN sebelum tanggal 12 Juni.
Rina
berusaha tegar dihadapan teman-temannya, meskipun segumpal kekecewaan mendarah
daging dalam hatinya, ketika merasa sudah tidak tahan lagi, dia menangis di
kamarnya. Ibunya yang mengetahui hal itu, segera menanyainya “kenapa? Karena
takut jika ibunya tahu dia menangis karena masalah beasiswa lagi, terpaksa dia
berbohong. “Saya masih trauma bu, melihat teman saya tadi digeret-geret sama
calo di Bungurasih, betapa kejamnya bu, di kota itu.” “Sudahlah nak, jangan
dihiraukan hal itu, yang penting kamu bisa sekolah kan?” ‘Iya bu. “Ayo segera
makan, dari tadi pasti perutnya belum keisi.” “Iya bu, oh iya, tanggal 12 saya
kesana lagi bu, kata pihak kampus ada pengumuman lagi tentang bidik misi.
Hanya
harap dan doa ketika hari itu datang, tanggal 12 Rina harus kembali ke Surabaya
untuk meminta kejelasan tentang Bidik Misi itu. Sesampainya di sana dia disuruh
menemui P. Jainudin, setelah memasuki ruangan pak Jainudin. Rina mendapatkan
pengarahan agar dia mengikuti seleksi lagi untuk mendapatkan beasiswa itu. Rina
pun lega mendengarnya, karena meskipun dia harus diseleksi lagi namun dia masih
memperoleh kesempatan untuk memperoleh beasiswa itu. Dan pada akhirnya dia
dialihkan ke beasiswa BAZNAS bukan Bidik Misi yang sebenarnya sistemnya hampir
sama, mendapatkan beasiswa untuk kepentingan sekolah dan beahidup.
Tidak
seperti yang dikatakan orang bahwa IAIN mutunya lebih rendah dibanding
universitas lain, namun saya mengalaminya sendiri untuk mendapatkan beasiswa
disini memang harus benar-benar disaring secara ketat. Dan dunia saya menjadi
berubah yang pada awalnya hanya mempelajari ilmu dunia, tapi sekarang saya
mempelajari ilmu akhirat. Bahkan sekarang bisa dikatakan berada di jurusan
akhirat. Meski karena Bungkus terasi saya mengenal IAIN, dan saya bangga karena
IAIN telah mengubah dunia saya menjadi dunia agama.