Rabu, 11 Juli 2012

bUNGKUS TERASI


Bungkus Terasi
Pengubah dunia
Siapa sangka dan siapa kira? Orang yang awalnya buta terhadap agama kini menginjakkan kakinya di universitas yang berbasic agama. Meskipun buta lantaran asal dari sekolah yang berbasic umum. dia tetap membawa tongkat kehidupannya yang slalu dia tanamkan dalam setiap pijakan kakinya. Innallaha la yughoyyiruma bi qowmin hatta yughoyyiruma bi anfusihim. Ayat itu, beserta prinsipnya “Every one can be a Champion if they want” yang telah membuatnya selalu tersenyum untuk maju dan pantang menyerah meskipun dia berbeda dengan teman-temannya yang berasal dari kalangan pesantren.
Seusai melanjutkan studinya di SMA barulah Rini merasa bingung, hendak kemanakah dia akan memulai jalan kehidupannya? Terjun kedunia kerja ataukah ke Perguruan Tinggi? Pertanyaan dalam hatinya kini semakin beranak cabang. Jika bekerja, dimanakah dia akan bekerja, siapakah yang mau jasa lulusan SMA yang tidak memiliki keahlian seperti yang dimiliki oleh anak Lulusan SMK, yang memang pada dasarnya sudah dibekali skill yang mumpuni. Jika dia terjun ke dunia Perguruan Tinggi mampukah orang tuanya yang bekerja hanya sebagai seorang petani membiayai perkuliahan hingga tuntas?
Faktor ekonomi adalah faktor utama yang membebani pikiran setiap orang untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Akan tetapi tak lama kemudian hal ini benar-benar terpecahkan dengan adanya pasal ke-5 bagian kesatu tentang Hak dan Kewajiban Warga Negara dalam UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa “ Setiap Warga Negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.” Dan juga UU SISDIKNAS No.20 Tahun 2003 pasal 11 ayat 1 menyatakan bahwa “ Pemerintah dan Pemerintah daerah wajib memberi layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap  warga negara tanpa diskriminasi.”
Kata “ tanpa diskriminasi” jelas membesarkan hati para pelajar yang berasal dari kalangan ekonomi menengah kebawah maupun kalangan ekonomi bawah untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Dalam pasal tersebut jelas-jelas pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin untuk melaksanakan tujuan pendidikan agar tercapai tanpa adanya diskriminasi. Dan upaya pemerintah tersebut dapat dilihat dari bermunculannya program beasiswa bidik misi, PBSB, Baznas, dan lain sebagainya. Yang dalam prakteknya mengakibatkan adanya persaingan terbuka diantara pelajar dari berbagai kalangan untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Dan dengan adanya berbagai macam seleksi ini benar-benar menyaring siswa-siswa untuk berprestasi.
Sejenak terpikir oleh Rini untuk mengikuti program beasiswa bidik misi ini. Berbagai persyaratan pendaftaran telah dipersiapkannya dengan apik, untuk mendapatkan rekomendasi dari sekolahnya. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat nilai rapor yang diminta dimulai dari semester 3 sampai semester 5 SMA (kelas 2 semester 1), sedangkan nilainya seperti dakian Gunung (Naik Turun). Selain itu, harus mengikuti paralel 40 % dari 6 kelas program IPA pada saat itu. Dan Rina sendiri bukanlah orang yang begitu hebat dalam bidang akademis. Betapa sedihnya ketika dia mengetahui ketika kelas 2 semester 2 SMA dia tidak termasuk 40% ranking paralel di sekolahnya?
Down itulah yang dirasakannya, harus sekolah dimana? Sedangkan dia sudah mengetahui orang tuanya yang tidak mempunyai uang untuk membiayai sekolahnya. Dan tawaran orang tuanya pada saat itu adalah kerja sembari kuliah di Perguruan Tinggi swasta. Betapa mirisnya ketika tawaran itu datang, sedangkan Rina benar-benar belum siap bekerja, dan sakit melihat semua teman-temannya daftar ke Universitas Negeri yang elite.
Masuk kerumah Bu dokter, itulah yang dialaminya sebelum UAS. Indikasi darah tinggi yang dia alami, jelas dialaminya akibat tidak hanya UAS yang ia pikirkan akan tetapi dia ingin sekolah. Kemanakah dia akan tunaikan cita-citanya yang ingin menjadi seorang pendidik profesional tanpa bersekolah? Mengetahui hal itu semua, akhirnya orang tuanya memberinya uang dua ratus ribu rupiah untuk pendaftaran SNMPTN undangan. Ingin dia menolak karena misalkan saja dia diterima di universitas negeri, jelas tidak mungkin bisa untuk membayar uang Insidental pertama.
Tapi orang tuanya kini memaksanya, karena mereka tahu kondisinya akan terus memburuk jika saja keinginan bersekolahnya terputus. Masih ingat dibenak Rina ketika dia berkata “Biaya pertama untuk masuk kuliah mahal pak, saya takut ketika diterima nanti tiba-tiba tidak bisa membayar.” Bapaknya menjawab “memangnya sampai berapa ratus?” “Jutaan pak.”Jawab Rina “ Tenang saja, bapak bisa menjual sapi atau sawah.” Meski jawaban bapak Rina begitu tenang seperti tak ada masalah sedikitpun akan tetapi, dia tahu ketika ekspresi wajah ayahnya yang sempat terlihat Rina, kernyitan dahi bapak ketika mendengar kata jutaan.
Besoknya dia menyetorkan uang ke pihak yang bertugas untuk menangani SNMPTN undangan. Ketika memasuki ruangan tiba-tiba dia melihat namanya diatas kertas putih yang diletakkan di depan meja ruang BK. Segera dia bertanya kepada petugas BK. “Ibu. Kenapa nama saya ada diatas kertas itu? “Oh, kamu termasuk siswa yang terekomendasi untuk mengikuti program beasiswa bidik misi. Jadi kamu memiliki nomor pin untuk online.
Benarkah bu?tanyanya dengan girang tak percaya. “Iya”. Jawab ibu itu. “Tapi saya tidak termasuk 40%  rangking paralel itu bu, karena nilai rapor saya jeblok ketika kelas 2 semester 2. “di coba saja online, nanti kalau bisa, berarti kamu bisa daftar. “ Iya Ibu.
Betapa girangnya dia hingga dia merasa bingung keajaiban apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya. Sesampainya dirumah sang Ibu menyambutnya dan bertanya “ Sudah daftar ?” akan tetapi Rina menangis. Ibunya bertambah bingung kenapa anaknya menangis. Setelah ditanya, dia mengungkapkan semua kegembiraan berita itu kepada ibunya. Ibunya pun senang mendengarnya. Dan Rina pun mengembalikan uang dua ratus ribu tadi kepada sang bapak. Tak lupa segera dia mengabarkan kepada kakak kelasnya Saiful Rizal yang bebrapa kali membimbingnya jika dia tidak bisa pelajaran.
Esoknya sepulang sekolah dia pergi ke warnet terdekat untuk mendaftar secara online. Dia tidak peduli meskipun hari itu hujan dan tak ada payung yang akan digunakan. Akhirnya nekat basah kuyup masuk ke dalam warnet. “Bismillah” kata itulah yang tiba-tiba terucap dari lisannya. Mulailah dia mengetik alamat website www.snmptn.ac.id setelah memasuki web itu, dia bingung akan menentukan universitas beserta jurusan apa yang ia pilih. Akhirnya dia memilih UM dengan jurusan pendidikan Bahas Inggris. Kemudian UNESA dengan jurusan Biologi. Karena hanya dua universitas itu yang ia kenal.
Setelah mengeklik OK dia menyesal kenapa tidak meminta pendapat dulu kepada orang-orang yang lebih mengetahui tentang hal itu. Atau paling tidak dia memberitahukan pilihan itu kepada orang tuanya. Agar mendapatkan pertimbangan. Dia pulang kerumah dengan penyesalan, akan tetapi sesampainya dirumah dia kaget ketika melihat ibunya tiba-tiba membawa sepotong koran bekas bungkusan terasi dan menyerahkan kepada Rina sambil berkata daftar di IAIN Sunan Ampel saja nak, disana kalau bidik misi ada tes ngajinya. Ibunya meski tidak mengerti tentang agama akan tetapi dia senang ketika mendengarkan Rina mengaji, ketenangan yang ia rasakan ketika mendengarkan anaknya ngaji.
Rina memang berasal dari sekolah SD,SMP,SMA, dan tidak sama sekali terjamah oleh pendidikan pesantren. Akan tetapi untunglah di desanya ada Taman Pendidikan Al-Qur’an. Yang sempat menjadi lahan pembelajarannya dalam menguasai baca al-Qur’an secara tartil, selain itu dia di beri kelebihan oleh Allah dalam kefasihan dan suara yang keras dan tegas dalam membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Itulah yang membuat ibunya selalu menginginkan anaknya terjun ke dalam dunia yang berhubungan dengan ngaji. Maksud hati memeluk gunung tapi apa daya tangan tak sampai. Pepatah itu sangat cocok jika diterapkan dalam kondisi saat itu. Nasi sudah menjadi bubur, Rina tidak bisa lagi mengubah pilihan universitas akibat tombol ok yang telah dipencetnya.
Ibunya yang mendengar hal itu, tidak marah ataupun sedih. Akan tetapi tambah tersenyum. “Allah, memberikan rencana lain untukmu nak.” “Iya bu, maaf saya tidak bilang dulu kalau memilih jurusan.” Kata Rina memelas. “Tak apa, toh kamu belajar dewasa dengan membuat keputusan sendiri. ‘betapa ibu yang memiliki kebesaran hati.
Tanggal 19 Mei pengumuman hasil SNMPTN undangan, akan tetapi betapa kecewanya ketika Rina melihat dia tidak lolos dalam seleksi dan dia baru mengetahui bahwa jurusan pendidikan bahasa Inggris yang di pilihnya, ternyata memerlukan tes wawancara. Dan otomatis dia tidak mengikutinya karena ketidak tahuannya tentang hal itu.
Ibunya yang mengetahui hal itu, mencoba untuk membesarkan hatinya. Sambil mendekati Rina yang terbaring diatas tempat tidur dan mengusap isak tangisnya. Ibu berkata “banyak jalan menuju Roma, setiap ada kemauan pasti ada jalan.” Untuk masuk perguruan tinggi kan tidak hanya satu jalan nak? “Iya bu, ada lagi SNMPTN Tulis tanggal 31-01 Juni, tapi sudah tidak ada beasiswa bidik misi lagi ibu, nanti apakah ibu rela dan mampu jika harus membiayai saya sekolah? “dimana sih ada orang tua yang keberatan jika anaknya ingin maju? Meskipun ibu ini hanya lulusan sd, tapi ibu masih mengerti tentang pentingnya sekolah nak, ibu tidak ingin anak ibu bernasib sama seperti ibu. Yang dulunya dilarang sekolah oleh orang tua akibat tidak adanya biaya.
“Toh kamu sudah besar, kamu bisa berfikir bagaimana agar kamu mendapatkan beasiswa dalam universitas nanti.” Jawab ibu dengan senyuman yang tak pernah tertinggal dalam setiap detiknya. “bu, besuk saya mau ke sekolah SMA, cari informasi lagi, mungkin masih ada rejeki yang tersisa untuk saya.” Jawab Rina. “Iya tak apa”.
Pagi-pagi Rina sudah berdiri di depan ruang BP, tidak lain tujuannya untuk mencari informasi tentang SNMPTN. Setelah dia masuk kedalam ruangan didapatinya bu lilik yang sedang sibuk menulis surat. “Assalamu’alaikum, maaf mengganggu ibu, saya ingin tanya tentang SNMPTN, dan mungkin sekiranya ada beasiswa-beasiswa untuk masuk ke perguruan tinggi yang masih terbuka peluangnya saat ini. “Oh iya, Rin..., bidik misi sekarang dibuka lagi dalam bentuk SNMPTN Tulis. “Benarkah bu?” “Iya, pelaksanaannya sama persis denan SNMPTN biasa, tapi sebelu online harus bayar dulu di Mandiri 150.000, tolong diberi tahukan ke teman-teman yang lain ya? “ Iya bu. Terima kasih.
Rina tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, segera dia mendaftar dan tak lupa dia memilih IAIN Sunan Ampel Surabaya sesuai dengan harapan ibunya dulu. Meskipun dia tidak mengetahui sama sekali tentang universitas ini. Ujian berlangsung, dan hari pengumuman telah tiba. Dia dinyatakan diterima di IAIN Sunan Ampel Surabaya dengan label bidik misi.
Rina ingin pergi ke IAIN, karena dia tidak mengerti sama sekali bahkan alamatnya pun dia tidak tahu. Untungnya salah seorang temannya mengetahui lokasi IAIN berada, akhirnya hari Rabu mereka berempat pergi ke sana. Sesampainya disana Rina langsung meminta petunjuk temannya jikalau dia ingin meminta kejelasan beasiswa bidik misi kepada pihak kampus. Akhirnya temannya itu menyarankannya untuk masuk ke dalam rektorat dan ke bagian akdemik.
 Sesampainya dibagian akademik, dia langsung menuju kesalah satu meja petugas mengenai bidik misi tulis. Tapi yang dia dapatkan adalah sebuah kekecawaan yang sangat besar. Karena salah satu karyawan akaedemik mengatakan bahwa jakarta tiba-tiba menambahkan kuota 44 terhadap siswa bidik misi, padahal pihak kampus masih belum di beri tahu dari manakah mereka mendapatkan biaya untuk anak sebanyak 44 itu, sedang jakarta belum memberikan sepeser uangpun kepada mereka? Akhirnya untuk menunggu keputusan dari pihak jakarta dan kembali lagi ke IAIN sebelum tanggal 12 Juni.
Rina berusaha tegar dihadapan teman-temannya, meskipun segumpal kekecewaan mendarah daging dalam hatinya, ketika merasa sudah tidak tahan lagi, dia menangis di kamarnya. Ibunya yang mengetahui hal itu, segera menanyainya “kenapa? Karena takut jika ibunya tahu dia menangis karena masalah beasiswa lagi, terpaksa dia berbohong. “Saya masih trauma bu, melihat teman saya tadi digeret-geret sama calo di Bungurasih, betapa kejamnya bu, di kota itu.” “Sudahlah nak, jangan dihiraukan hal itu, yang penting kamu bisa sekolah kan?” ‘Iya bu. “Ayo segera makan, dari tadi pasti perutnya belum keisi.” “Iya bu, oh iya, tanggal 12 saya kesana lagi bu, kata pihak kampus ada pengumuman lagi tentang bidik misi.
Hanya harap dan doa ketika hari itu datang, tanggal 12 Rina harus kembali ke Surabaya untuk meminta kejelasan tentang Bidik Misi itu. Sesampainya di sana dia disuruh menemui P. Jainudin, setelah memasuki ruangan pak Jainudin. Rina mendapatkan pengarahan agar dia mengikuti seleksi lagi untuk mendapatkan beasiswa itu. Rina pun lega mendengarnya, karena meskipun dia harus diseleksi lagi namun dia masih memperoleh kesempatan untuk memperoleh beasiswa itu. Dan pada akhirnya dia dialihkan ke beasiswa BAZNAS bukan Bidik Misi yang sebenarnya sistemnya hampir sama, mendapatkan beasiswa untuk kepentingan sekolah dan beahidup.
Tidak seperti yang dikatakan orang bahwa IAIN mutunya lebih rendah dibanding universitas lain, namun saya mengalaminya sendiri untuk mendapatkan beasiswa disini memang harus benar-benar disaring secara ketat. Dan dunia saya menjadi berubah yang pada awalnya hanya mempelajari ilmu dunia, tapi sekarang saya mempelajari ilmu akhirat. Bahkan sekarang bisa dikatakan berada di jurusan akhirat. Meski karena Bungkus terasi saya mengenal IAIN, dan saya bangga karena IAIN telah mengubah dunia saya menjadi dunia agama.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar