Rabu, 11 Juli 2012


Jangan Pernah Lepaskannya
Ketika Rina berjalan bersama ibunya di sebuah perumahan yang elite. Rina yang sedang asyik memandangi bulan purnama yang indah nian memancarkan cahaya-Nya dia berucap Subhanallah. Ibunya langsung tersenyum, melihat anaknya yang masih berumur 10 tahun itu selalu mengucapkan asma-Nya. Didepan Rumah yang paling mewah yang berada di pertengahan jalan itu, tiba-tiba Ibunya berhenti. “Ibu, kenapa berhenti? Bukankah kita masih setengah perjalanan menuju rumah kakek?” Ibunya tidak bercakap apapun, hanya jari telunjuknya yang bergerak menunjuk apa yang ada di depan Rumah itu. “Apa maksudnya ibu? Rina tak mengerti, Rina memandang ke arah telunjuk ibu, dia melihat ada tiga anak laki yang berusia 15 tahunan, sedang memainkan gitar dan bernyanyi keras-keras.
Ibu berkata : “Lihatlah nak, betapa kasihannya ibu mereka jika ibu mereka telah meninggal nanti, karena yang dibutuhkan ibu mereka bukanlah nyanyian mereka. Tapi yang dibutuhkan adalah doa dari anak-anak mereka. Betapa mereka telah lupa terhadap akhirat, padahal mereka hanya numpang di dunia ini. Karena hidup yang kekal hanyalah di akhirat kelak.”
“Ibu jangan bilang begitu, Rina jadi takut, kenapa gaya bicara ibu seperti nenek kemarin ketika akan meninggal. Rina belum siap ibu, menghadapi cobaan tanpa dukungan dari Ibu.” Sambil tersenyum, ibunya berkata “Ibu hanya ingin memberikan pelajaran padamu nak.”
Apa yang di inginkan ibu dan ayah ketika Rina nanti sudah besar?” tanya Rina. “Ibu dan ayah hanya ingin Rina tidak pernah melepaskan 1 hal.”jawab ibu
“Apa itu ibu?” tanya Rina balik
“Al-Qur’an.”
Kenapa bu?”
“Jangan pernah melepaskannya, biarkanlah dia menjadi petunjuk dalam hidup Rina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar