Jangan Pernah Lepaskannya
Ketika
Rina berjalan bersama ibunya di sebuah perumahan yang elite. Rina yang sedang
asyik memandangi bulan purnama yang indah nian memancarkan cahaya-Nya dia
berucap Subhanallah. Ibunya langsung tersenyum, melihat anaknya yang masih
berumur 10 tahun itu selalu mengucapkan asma-Nya. Didepan Rumah yang paling
mewah yang berada di pertengahan jalan itu, tiba-tiba Ibunya berhenti. “Ibu,
kenapa berhenti? Bukankah kita masih setengah perjalanan menuju rumah kakek?”
Ibunya tidak bercakap apapun, hanya jari telunjuknya yang bergerak menunjuk apa
yang ada di depan Rumah itu. “Apa maksudnya ibu? Rina tak mengerti, Rina
memandang ke arah telunjuk ibu, dia melihat ada tiga anak laki yang berusia 15
tahunan, sedang memainkan gitar dan bernyanyi keras-keras.
Ibu
berkata : “Lihatlah nak, betapa kasihannya ibu mereka jika ibu mereka telah
meninggal nanti, karena yang dibutuhkan ibu mereka bukanlah nyanyian mereka.
Tapi yang dibutuhkan adalah doa dari anak-anak mereka. Betapa mereka telah lupa
terhadap akhirat, padahal mereka hanya numpang di dunia ini. Karena hidup yang
kekal hanyalah di akhirat kelak.”
“Ibu
jangan bilang begitu, Rina jadi takut, kenapa gaya bicara ibu seperti nenek
kemarin ketika akan meninggal. Rina belum siap ibu, menghadapi cobaan tanpa
dukungan dari Ibu.” Sambil tersenyum, ibunya berkata “Ibu hanya ingin
memberikan pelajaran padamu nak.”
Apa
yang di inginkan ibu dan ayah ketika Rina nanti sudah besar?” tanya Rina. “Ibu
dan ayah hanya ingin Rina tidak pernah melepaskan 1 hal.”jawab ibu
“Apa
itu ibu?” tanya Rina balik
“Al-Qur’an.”
Kenapa
bu?”
“Jangan
pernah melepaskannya, biarkanlah dia menjadi petunjuk dalam hidup Rina.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar